Sabtu, 22 Desember 2012

Nasionalisme di perbatasan dan BBM Malaysia

Samarinda - Minimnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) ke wilayah perbatasan Indonesia - Malaysia di Kalimantan Timur, membuat warga setempat terpaksa menggunakan BBM dari negeri jiran.

"Tidak bisa dipungkiri, banyak produk negeri tetangga (Malaysia) termasuk BBM yang secara bebas diperjualbelikan di Kabupaten Nunukan, terlebih di Pulau Sebatik dan Krayan yang berbatasan langsung dengan Malaysia," ungkap Kepala Sub Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Kabupaten Nunukan, Hasan Basri.

Membanjirnya produk Malaysia di wilayah perbatasan tak lepas dari kondisi geografis kedua negara yang langsung berhubungan darat serta banyaknya `jalur tikus` yang menyebabkan mudahnya masuk berbagai barang ilegal menuju ke Indonesia.

Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Timur panjangnya 1.038 kilometer, sementara luas wilayah perbatasan adalah 57.731,64 kilometer persegi atau 23,54 persen dari luas provinsi Kalimantan Timur.  Di area ini ada 15 kecamatan.

"Kondisi geografis wilayah perbatasan yang sebagian besar masih sulit dijangkau melalui darat bahkan ada pula yang hanya bisa dijangkau melalui udara menjadi penyebab mudahnya masuk barang-barang ilegal ke wilayah Indonesia," kata Hasan Basri sembari menunjuk serbuan produk-produk Malaysia ke daerahnya.

Demi menunjukkan rasa nasionalisme, pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-66 tahun lalu, warga di perbatasan membentangkan bendera Merah Putih sepanjang tiga kilometer, di Desa Simanggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, yang berbatasan langsung dengan negara bagian Sabah, Malaysia.

"Cara ini sebagai upaya memperlihatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa nasionalisme warga di perbatasan masih kokoh," kata Hasan Basri.

Seorang warga Nunukan, Dahlan mengakui, bukan hanya BBM tetapi juga berbagai makanan dan kebutuhan pokok banyak diperjualbelikan di wilayah perbatasan.

"Jangankan di Pulau Sebatik, di ibukota Kabupaten Nunukan bahkan hingga Kota Tarakan, banyak produk Malaysia bebas dijual. Bahkan, pakaian, sepatu dan berbagai jenis aksesoris juga membanjiri Nunukan," kata Dahlan.

Lebih dari itu kualitas produk Malaysia memang jauh lebih baik dari produk negeri sendiri.

"Gula dari Malaysia jauh lebih putih dan harganya hanya Rp9.000 per kilo dibanding gula Indonesia yang berwarna kekuning-kuningan dengan harga lebih Rp10 ribu," kata Dahlan.

Terbiasa

Begitu pula elpiji, warga Nunukan lebih memilih buatan Malaysia karena isinya lebih padat, sementara kualitas tabung jauh lebih tebal sehingga sangat aman digunakan dibanding tabung gas ukuran tiga kilo buatan lokal.

Dahlan mengatakan adalah tidak sulit mencari produk negara tetangga di Nunukan.

Warga lainnya, Fahrulrozy mengaku lebih memilih menggunakan bensin dari Malaysia daripada harus mengantri di Agen Premium Minyak Solar yang hanya ada tiga di Nunukan.

"Itu pun sering kehabisan stok. Daripada harus mengantri, saya lebih memilih membeli bensin dari Malaysia yang banyak dijual secara eceran. Harganya sepuluh hingga limabelas ribu rupiah per botol, namun kualitasnya jauh lebih baik," katanya.

Jika dicelupkan di tangan, bensin dari Malaysia langsung kering.

Ada tiga jenis bensin Malaysia yang dijual di Nunukan yakni ada yang berwarna biru, hijau dan kuning. "Persis sama dengan warna bensin kita. Bahkan, sebagain besar warga Pulau Sebatik menggunakan bensin dari Malaysia karena pasokan BBM dari Indonesia sendiri sangat minim," ungkap Fahrulrozy.

Tak heran jika Camat Sebatik Barat, Burhanuddin mengatakan krisis BBM yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia tidak terlalu berdampak pada warga pulau yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu.

"Masyarakat di sini sudah terbiasa menggunakan BBM dari Malaysia sehingga dampak krisis terkait rencana kenaikan harga BBM tidak terlalu dirasakan," kata Burhanuddin.

Untuk mencapai Tawau di Malaysia, dari Sebatik hanya butuh waktu 15 menit dengan menggunakan speedboat.

Bupati Kabupaten Malinau, Yansen mengakui, kesulitan BBM di wilayahnya yang juga berbatasan langsung dengan Malaysia sudah berlangsung bertahun-tahun.

"Dari dulu sudah sulit," katanya sembari menyebutkan bahwa warganya sudah bertahun-tahun mengeluarkan Rp25 ribu untuk setiap liter BBM.

Kendati dihadapkan pada masalah keterbatasan BBM, warga di perbatasan tidak cengeng.  Yansen juga tak ingin hal ini dimasalahkan.  "Yang paling penting, bagaimana nasionalisme tetap terjaga," demikian Yansen.




Sumber : antaranews.com , Editor : Jafar M Sidik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar